Rabu, 14 Maret 2012

Kesaksian Gerimis

(Aulia Novita Irmmal, Kedaulatan Rakyat 2008)


Kulangkahkan kaki dengan malas, kubuka lockerku, tapi waw… surat dari siapa ini? Kubuka dan kubaca segera.
Apakah tiap titik gerimis yang jatuh di lembah akan tetep mengalir ke laut? Apakah tiap noda akan terus membekas di jiwa? Dan apakah aku salah bila aku ingin menebus kesalahan ayahku meski dengan nyawaku?----Adnan.
Rasanya petir menyambar hatiku tanpa sebab, dan tiba-tiba Adnan, seseorang yang meletakkan surat dilockerku menghampiriku.
“Katakan padaku, La, bagaimana caranya aku bias membuatmu memaafkan ayahku, agar kita tak lagi diam seperti ini?” katanya.
“Aku tak tau, jangan ajak aku bicara”, timpalku.
“Aku tau apa yang kau rasakan, tapi aku tak mau kita terus seperti ini”.
Aku tak tau apa yang harus aku katakan. Aku tak mampu tuk menjawabnya semuanya.
Adnan adalah teman sekelasku, tapi nyaris aku tak pernah berbicara padanya. Dia adalah anak Pak Atmaja, seseorang yang telah menghitamkan langit-langit rumahku, seseorang yang telah merubah seluruh kehidupanku.
Entah benci apa dia dengan ayahku, hingga ia tega menjegal ayahku dalam pekerjaannya.
Dan yang paling menyakitiku ketika dia bunuh ayah dan ibuku, dan kini tinggalah aku sendiri, kesepian dalam belas kasih renta nenekku.
***
Hujan belum juga reda, padahal hari sudah lumayan sore, mau tak mau aku harus pulang meski hujan masih turun cukup deras.
Dengan agak berlari aku susuri jalan raya, rumahku lumayan dekat dengan sekolah, hanya perlu menyebrang jalan raya satu kali, dan belok ke kiri.
Cukup lama aku berdiri di seberang jalan, menunggu sepi jalan oleh lalu lalang kendaraan. Hingga hujan tinggal rintik-rintik kecil, baru kendaraan yang lalu lalang berkurang.
Langsung kusebrangi jalan itu, jalan raya tanpa rambu rambu yang memeng bukan untuk penyeberangan.
Tapi aku terus saja berjalan, entah mimpi apa aku semalam, hingga…. pimmm…pimmm…pimmm…..whuuussss….buuukkkkk
Seseorang mendorongku hingga keseberang jalan, perlahan kucoba berdiri. Dan kau percaya??? Adnan mewujudkan kata-katanya. Dia relakan nyawanya tuk tebus kesalahan ayahnya pada keluargaku!!! Oh tidak, ini tak boleh terjadi!
Seketika waktu terasa berhenti, dan semua warna kehidupan memudar…
Di depan mataku aspal jalan berubah merah, darah mengalir bersama aliran air hujan. Kutatap tubuh Adnan yang tergolek di jalan. Tak lama orang-orang berdatangan ingin menyelamatkannya. Tapi hatiku berkata, Adnan tak akan kembali. Aku tak tau haruskah aku tesenyum karna…ah jahatnya aku bila kupilih tuk tersenyum.
Tapi harus kuakui hatiku hancur melihat tubuh Adnan yang esok tak lagi kujumpai. Tak kuat lagi kubendung air mataku, air mata yang mengungkapkan semua pedih yang kurasa.
“Adnan, maafkan aku yang hanya bisa diam di depanmu. Tapi sungguh, aku tak menginginkan semua ini. Kenapa aku harus kehilangan satu orang lagi, satu orang yang tanpa sadar teleh aku cintai. Kenapa semua yang aku sayangi harus tinggalkan aku sendiri.”
Kutatap langit yang masih meneteskan basah oleh gerimis.
“Langit, biarkan Adnan bahagia bersama ayah ibuku, bersama mereka yang kusayangi…”.
***